Makna Batik dalam Pernikahan Adat Yogyakarta

Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan, dapat kita ketahui bahwa di balik batikbatik yang bermotif tradisional terdapat cerita-cerita suci mengenai alam semesta (mitologi) sesuai dengan kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Yogyakarta. Di dalam uraian tersebut antara lain disebutkan bahwa, orang Jawa percaya akan adanya kekuatan-kekuatan baik maupun jahat yang mendiami dunia gaib yang sangat mempengaruhi kehidupan mereka selama di dunia. Oleh karena itu, pandangan hidup orang Yogyakarta menekankan pada keselarasan dan keseimbangan dengan alam semesta. Perwujudan dari pandangan hidup mereka ini, tercermin dalam bentuk-bentuk upacara tradisional.

Upacara pernikahan yang merupakan salah satu bentuk dari upacara tradisional merupakan upacara saat peralihan hidup dari masa remaja ke tahap hidup berumah tangga, merupakan saat-saat yang penting bagi kehidupan seseorang. Menurut orang Yogyakarta, peralihan hidup dari satu tingkat ke tingkat yang lain ini dianggap sebagai saat-saat yang gawat dan penuh bahaya. Ada sesuatu diluar kemampuan manusia yang dapat menyebabkan bencana pada saat peralihan itu. Untuk mencegah terjadinya bencana tersebut, maka perlu diadakan upacara tradisional, dimana upacara itu mengandung unsur-unsur yang bermaksud menolak bahaya gaib yang mengancam individu maupun lingkungannya.

Bagi masyarakat Yogyakarta, batik tradisional dianggap sebagai benda yang dapat mengungkapkan atau memberi pengetahuan atau pengertian tentang adanya daya-daya kekuatan yang menguasai alam semesta. Lebih daripada itu, apa yang tercermin baik pada motif, warna maupun nama-namanya nampak memberikan harapan-harapan ataupun jaminan bagi manusia berupa suatu kehidupan yang lebih baik selama di dunia. Oleh karena itu dalam rangka upacara pernikahan adat Yogyakarta, batik tradisional sebenarnya memiliki arti yang sangat penting. Hal ini karena batik-batik tersebut dianggap sebagai suatu perlengkapan khusus, yang dimaksudkan sebagai lambang yang dapat menghubungkan antara manusia dengan alam supranaturalnya, sehingga di saat upacara peralihan tersebut maupun pada hari-hari selanjutnya diharapkan dapat selamat terbebas dari kemalangan serta bahagia.

Namun demikian, arti dari pemakaian kain-kain batik tradisional sebagai alat perlengkapan upacara pernikahan adat Yogyakarta, bagaimanapun juga sangat tergantung dari persepsi masing-masing pemakainya mengenai pandangan mereka terhadap batikbatik itu sendiri.

Kenyataan bahwa berubahnya persepsi masyarakat Yogyakarta yang disebabkan oleh pola-pola berpikir yang lebih rasionil, di samping pembuatan batik secara besar-besaran dengan alat-alat teknologi modern, serta pengenaan atau penggunaan kain-kain batik yang bermotif tradisional tidak pada tempatnya, menyebabkan lunturnya makna magis yang terkandung di dalam batikbatik tradisional itu. Hal-hal demikian ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap pemakaian batik tradisional dalam upacara pernikahan adat Yogyakarta, sehingga pelaksanaannya dewasa ini lebih merupakan tradisi yang hanya semata-mata untuk dilaksanakan, tanpa penghayatan batiniah dan tidak lagi memiliki arti yang bersifat sakral.

Makna Batik dalam Pernikahan Adat Yogyakarta

Namun demikian, arti mengenai peranan batik tradisional dalam pernikahan adat Yogyakarta, tentunya tidak terlepas dari pemahaman ataupun penghayatan seseorang terhadap batikbatik itu sendiri, maupun terhadap makna upacara pernikahan tersebut pada umumnya. Sedangkan pemahaman ataupun penghayatan dari seseorang terhadap sesuatu hal, biasanya sangat dipengaruhi oleh persepsi dari orang yang bersangkutan mengenai hal-hal yang dilihatnya tadi.

Seperti dapat kita ketahui, akibat dari arus informasi yang demikian pesat seiring dengan ditemukannya alat-alat komunikasi dan teknologi-teknologi modern lainnya, mengakibatkan di dalam suatu masyarakat otomatis terjadi pula perubahan yang sangat cepat. Hal ini sangat mempengaruhi sistem sosial, termasuk sikap dan pola tingkah laku di dalam kehidupan masyarakat.

Pengaruh pola berpikir barat yang lebih mengutamakan rasionalisasi pada setiap aspek kehidupan, dimana lembaga-lembaga pendidikan merupakan pusat-pusat terbentuknya pola pikir rasional, mau tidak mau hal demikian ikut menunjang dan bahkan mempercepat pembentukan pola berpikir dan persepsi seseorang terhadap sesuatu hal sesuai dengan pola berpikir yang sedang dikembangkan. Hal-hal seperti inilah kiranya yang sedang terjadi didalam kehidupan masyarakat kita, dan khususnya dalam masyarakat Yogyakarta.

Pergeseran pola berpikir yang sedang berkembang saat ini, membawa akibat pada pembentukan persepsi seseorang akan sesuatu hal, terlebih lagi terhadap pemikiran-pemikiran yang bersifat magis religius. Demikian halnya dengan persepsi masyarakat, khususnya Yogyakarta terhadap batik tradisional yang sebetulnya memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi. Akan tetapi sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat yang begitu cepat, diantaranya adalah persepsi masyarakat, maka nampak bahwa pada saat-saat sekarang ini, peranan batik tradisional sebagai unsur perlengkapan upacara pernikahan, penghayatan makna keagungannya semakin hari semakin berkurang. Hal ini dapat diketahui dari penjelasan beberapa informan yang mengatakan bahwa orang tidak lagi mengetahui makna apa sebenarnya yang terkandung di dalam kain-kain batik yang mereka kenakan. Kemudian dikatakan lebih lanjut, bahwa mereka hanya mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh orang tuanya. Disamping itu kedua orang tua dari pengantin-pengantin generasi mudapun, sebenarnya juga sudah amat sedikit pengetahuannya mengenai seluk beluk batik tradisional yang berhubungan dengan nilai-nilai magis tadi, sehingga ia hanya mengemukakan secara garis besarnya saja, dan lebih mendasarkan kepada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh nenek-nenek moyang mereka secara turun temurun dalam lingkungan keluarga mereka.

Sejalan dengan bergesernya waktu, maka orang-orang yang masih menganut pola berpikir berdasarkan pemikiran tradisional semakin hari semakin lanjut usia, sehingga jika mereka meninggal dunia, pemikiran-pemikiran mereka lambat laun akan terkikis akibat generasi berikutnya kurang mempunyai perhatian terhadap pola-pola pemikiran tersebut. Sistem pewarisan yang kurang berjalan lancar, ditambah lagi dengan perkembangan jaman yang mengakibatkan makna batik tradisional yang mengandung nilai-nilai spiritual yang luhurpun semakin tertinggal di belakang, dan bahkan lambat laun ditinggalkan. Pemakaian batik tradisional dalam upacara pernikahan hanyalah sebagai kebiasaan semata. Lebih daripada itu, kecenderungan saat ini menunjukkan bahwa, perlengkapan tersebut dikenakan hanya untuk memperlihatkan kalau mereka mampu melaksanakan suatu upacara pernikahan secara utuh dan besar-besaran, sehingga dalam hal ini hanya untuk menampakkan status dan kedudukan mereka di mata masyarakat luas.

Penyebab memudarnya nilai-nilai magis yang terkandung di dalam batik tradisional, selain disebabkan oleh hal-hal diatas, adalah juga akibat dari produksi batik yang tidak lagi dikerjakan sebagaimana mula-mula batikbatik tersebut dibuat. Pada walnya, pembuatan batik tradisional dilakukan dengan penuh penghayatan oleh seseorang dengan cara melukiskan pada kain, yaitu yang kita kenal sebagai batik tulis. Namun, dengan ditemukannya alat-alat produksi modern, maka pembuatan kain-kain batikpun dilakukan secara besar-besaran sama halnya dengan produksi-produksi tekstil lainnya. Hal tersebut mengakibatkan harganya relatif murah, tahan lama, dan lebih halus. Akibatnya, dengan sendirinya orang lebih suka memilih harga yang murah dengan motif yang sama, walaupun cara pembuatannya tidak lagi dilakukan dengan penuh penghayatan sesuai dengan makna yang tersirat di dalam batikbatik tersebut. Akibat lain dari murah dan banyaknya kain batik yang beredar di masyarakat, memyebabkan kain-kain batik yang memiliki nilai magis religius tadi pemakaiannya cenderung digunakan tidak pada tempatnya. Misalnya; banyak kain-kain batik yang bermotif tradisional dipergunakan sebagai taplak meja, sprei, pakaian dan sebagainya yang sifatnya untuk keperluan sehari-hari. Dengan demikian jelaslah bahwa, faktor-faktor ini turut mempercepat lunturnya nilai-nilai magis pada motif batik tradisional yang merupakan peninggalan nenek moyang mereka yang teramat agung nilai spiritualnya, yang sebenarnya hanya dimaksudkan untuk keperluan upacara-upacara tertentu saja. Demikian pula yang terjadi pada pernikahan adat Yogyakarta, penggunaan batik tradisional ini cenderung hanya dilaksanakan atau dilakukan secara praktis tanpa penghayatan batiniah lagi, sehingga kurang lagi memliki arti yang sifatnya sakral.

Makna Batik dalam Pernikahan Adat Yogyakarta

1. Kain Batik Truntum,kain batik ini di dalamnya terdapat beberapa motif, yaitu motif gurda dan motif truntum itu sendiri. Motif truntum sebenarnya termasuk jenis semen, karena arti truntum itu berarti juga bersemi atau tumbuh. Selain itu ada hubungannya dengan kata tumruntum, yang berarti berturut-turut dan merata. Motif truntum ini bentuknya terdiri dari segi tiga runcing berjumlah delapan, dan terdapat bulatan di tengahnya sehingga menyerupai bunga-bunga kecil. Adapun maksud yang terkandung dari kain Batik ini secara keseluruhan adalah, agar adik-adik si calon pengantin nantinya dapat mengikuti jejak kakaknya berumah tangga, dan dapat dilakukan dengan selamat sebagaimana kakaknya terdahulu. Di samping itu, dengan menggunakan kain Batik ini bermakna agar kedua pengantin bisa terus rukun, segera mempunyai keturunan serta mendapat banyak rejeki, dan selamat dalam berumah tangga.

2. Kain Batik Cakar Ayam, cakar ayam melambangkan agar setelah berumah tangga

sampai keturunannya nanti dapat mencari nafkah sendiri atau hidup mandiri.

3. Kain Batik Grompol, grompol atau grombol, dalam Bahasa Jawa berarti berkumpul atau bersatu. Kain Batik dengan motif ini biasa dikenakan pada saat upacara pernikahan oleh orang tua mempelai, baik calon mempelai pria atau calon mempelai wanita. Motif ini melambangkan harapan pemakai bahwa akan berkumpul semua sanak saudara dan tamu-tamu sehingga pesta pernikahan dapat berjalan meriah. Juga berkumpulnya semua hal yang baik yaitu rejeki, kebahagiaan, kerukunan hidup, ketenteraman untuk kedua keluarga tersebut. Namun juga dengan harapan bahwa pasangan keluarga baru itu nanti sejauh kemanapun perginya, tetap akan dapat mengumpul atau mengingat kepada induknya atau keluarga besarnya.

 

batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon

FILOSOFI BATIK BERDASAR DARI WARNANYA

1. Warna coklat.

Warna ini dapat membangkitkan rasa kerendahan diri, kesederhanaan dan mem”bumi”, kehangatan, bagi pemakainya.

batik parang panggede Batik Klasik Jawa Arti dan Cerita di Balik Ragam Motif

Parang Penggede. Bunga yang sedang merekah dan kupu besar yang indah, melambangkan “kebesaran” pemilik / pemakainya

Dalam pemakaiannya warna coklat terutama, sering kita temukan dalam motif-motif semen (lihat foto 2). Dalam motif parang, juga digunakan warna coklat.

Motif Semen merupakan salah satu motif indah yang sering kali dipenuhi dengan makna dan arti yang dapat kita temukan dalam Falsafah Jawa. Suatu motif yang pada saat ini juga hanya dimiliki oleh pemilik dompet tebal. Hal ini terjadi karena untuk menciptakan motif semen biasanya memerlukan waktu yang cukup lama. Biasanya motif ini dilukiskan dua kali, baik dari luar dan maupun dari dalam. Juga pengisian cecek yang harus dilukiskan satu demi satu. Sehingga pembuatan satu kain panjang bisa memakan waktu lebih dari 6 bulan.

2. Warna biru tua

Rasa ketenangan, effekt kelembutan, keichlasan dan rasa kesetiaan biasanya dapat ditunjukkan melalui pemakaian warna ini. Warna biru biasanya dapat kita temukan dalam motif batik klassik dari Yogyakarta. Lihat dalam motif Modang di bawah ini. Sebuah motif yang di sekeliling kain jariknya dilukiskan bentuk-bentuk parang tuding. Dalam kain panjang ini didasari dengan warna biru. Di dalamnya diisi dengan motif ganggong ranthé, sejenis bunga.

batik motif modang batik Klasik Jawa Arti dan Cerita di Balik Ragam Motif

Motif Modang dengan isen ganggong ranthe

3. Warna putih

Yang juga muncul dalam motief Yogyakartan, menunjukkan rasa ketidakbersalahan, kesucian, ketentraman hati dan keberanian serta sifat pemaaf si pemakainya.  .

Membaca tentang makna warna seperti yang tersebut di atas, sangatlah dapat dimengerti mengapa motif Sido Asih ini dikenakan dalam upacara pernikahan adat. Menilik dari pemakaian warna putih tersirat harapan bahwa calon pengantinnya di kemudian hari akan selalu dilimpahi dengan kasih dan sayang dalam kehidupan berumah tangganya.

batik motif sido asih Batik Klasik Jawa Arti dan Cerita di Balik Ragam Motif

Sido Asih / Semen Calo / Gunung Sari latar pethak.

4. Dari warna-warna yang terdapat dalam motif batik juga terdapat warna yang kehitam-hitaman.

Sesungguhnya warna hitam yang dimaksudkan merupakan suatu warna biru yang sangat tua. Sehingga tampak seperti hitam. Suatu warna yang seringkali memberikan gambaran yang negative.

Tetapi dalam dunia perbatikan orang mengambil segi positif dari yang biasanya bermakna negative. Jadi warna hitam dalam batik melambangkan antara lain suatu kewibawaan, keberanian, kekuatan, ketenangan, percaya diri dan dominasi.

Dalam motif itu diperlihatkan berbagai jenis binatang, suatu keaneka ragaman dalam kehidupan yang toch pada akhirnya dapat saling bertenggang rasa.

batik motif alas alasan latar irengan batik Klasik Jawa Arti dan Cerita di Balik Ragam Motif

FILOSOFI BATIK DARI MOTIFNYA

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian Batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari Batik keluarga tertentu. Beberapa motif Batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif Batik tadisional klasik hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Pada jaman dahulu, motif atau pola Batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya Batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni Batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Batik memang bukan sekadar lukisan yang ditorehkan pada kain dengan mengunakan canting (alat untuk membatik yang berisi malam atau lilin). Banyak jejak bisa digali dari sehelai kain Batik. Sebab motif yang ditorehkan pada selembar kain Batik selalu mempunyai makna tersembunyi. Jenis dan corak Batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam.

FILOSOFI BATIK DILIHAT DARI SEJARAHNYA

Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya. Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.

Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana.Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Keraton Mataram. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.

Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.

Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan Keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik.

Kalaupun batik di Keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Keraton Yogyakarta. Ketika tahun 1813, muncul Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta akibat persengketaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles, perpecahan itu ternyata tidak melahirkan perbedaan mencolok pada perkembangan motif batik tlatah tersebut.

Menurut KRAy SM Anglingkusumo, menantu KGPAA Paku Alam VIII, motif-motif larangan tersebut diizinkan memasuki tlatah Keraton Puro Pakualaman, Kasultanan Surakarta maupun Mangkunegaran. Para raja dan kerabat ketiga kraton tersebut berhak mengenakan batik parang rusak barong sebab sama-sama masih keturunan Panembahan Senopati.

batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri Keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Keraton KasultananYogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta.

Batik Trusmi Cirebon : Jenis-jenis Batik

Batik Rembang
Batik yang sangat terkenal di Rembang adalah batik Lasem. Batik Lasem ini pasarannya pun sudah menembus pasar mancanegara.
Batik Tegal
Batik Tegalan didominasi warna coklat dan biru. Ciri khas lain batik Tegalan adalah berwarna-warni. Batik tulis Tegal atau Tegalan itu dapat dikenali dari corak gambar atau motif rengrengan besar atau melebar. Motif ini tak dimiliki daerah lain sehingga tampak eksklusif. Motifnya banyak mangadaptasi dari aneka flora dan fauna disekitar kehidupan masyarakat di kota Tegal. Motif Grudo (Garuda) dengan warna terang yang mempertontonkan bentuk-bentuk sayap burung garuda dan motif Gribigan dengan bentuk khas anyaman bambu dalam warna agak gelap. Budaya berpakaian batik di Tegal dibawa Raja Amangkurat I (Sunan Amangkurat Mas) dari Keraton Kasunanan Surakarta. Amangkurat yang saat itu menyusuri pantai utara membawa pengikutnya yang di antaranya perajin batik.
Batik Jawa Timur
Perkembangan batik di Jawa Timur sebenarnya agak lambat dibandingkan dengan batik Jawa Tengah. Salah satu penyebabnya mungkin karena batik di Jawa Tengah dan Yogyakarta memiliki patron dari kalangan keraton sehingga selalu ada inovasi. Padahal, batik di Jawa Timur juga memiliki motif yang tidak kalah uniknya dibandingkan dengan daerah lain. Batik Jawa Timur mempunyai motif yang lebih bebas, tanpa terikat pakem-pakem motif yang ada sebelumnya. Ragam hias batik Jawa Timur bersifat naturalis dan dipengaruhi berbagai kebudayaan asing. Warna-warna yang dipakai batik Jawa Timur tampak lebih cerah. Batik Jawa Timur sebenarnya tersebar merata di seluruh wilayah Jatim. Hanya saja ada lima wilayah di mana perajin batik lebih banyak ditemukan, yakni di Madura, Tuban, Sidoarjo, Tulungagung, dan Banyuwangi.
Batik Madura
Ternyata, Pulau Madura tak hanya tersohor dengan karapan sapi dan garamnya. Wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Timur ini juga terkenal sebagai penghasil batik. Bahkan, produk batiknya memiliki ragam warna dan motif yang tidak kalah dengan produksi daerah lain. Maklum, batik Madura menggunakan pewarna alami sehingga warnanya cukup mencolok. Selain warna yang mencolok, seperti kuning, merah atau hijau, batik Madura juga memiliki perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka flora dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.
Batik Pacitan
Batiktulis khas pacitan tergolong jenis klasik seperti Motif Sidomulyo, Sekar Jagat, Semen Romodan Kembang-Kembang. Batik Sidoarjo Sidoarjo juga punya Kampoeng batik dengan nama Batik Jetis, Kampoeng ini memproduksi batik tulis dengan motif yang khas dari Sidoarjo. Motif kain batik asal Jetis didominasi flora dan fauna khas Sidoarjo yang memiliki warna-warna cerah, merah, hijau, kuning, dan hitam. Motifnya juga motif kuno, tidak banyak perubahan dari motif yang dulu dipakai oleh para pendahulu. Ada abangan dan ijo-ijoan (gaya Madura), motif beras kutah, motif krubutan (campur-campur) lalu ada motif burung merak, dan motif-motif lainnya.  
Batik Tuban
BATIK Tuban merupakan batik yang paling khas di Jawa Timur, Kenapa? karena proses pembatikannya dimulai dari bahan kain yang digunakan untuk membatik dipintal langsung dari kapas. Jadi gulungan kapas dipintal menjadi benang, lalu ditenun, dan setelah jadi selembar kain lalu dibatik. Batik ini kemudian disebut Batik Gedog. Dalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot tertulis, sebenarnya batik Tuban mirip dengan batik Cirebon pada pertengahan abad ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan. Namun, ketika Kota Cirebon mengalami perubahan dramatis dan diikuti dengan perubahan pada batiknya, batik Tuban tetap seperti semula.  

Batik Trusmi Cirebon : Jenis-jenis Batik

Batik Banyuwangi

Tak banyak orang yang tahu, bahwa sejatinya Banyuwangi merupakan salah satu daerah asal batik di Nusantara. Banyak motif asli batik khas Bumi Blambangan. Namun hingga sekarang, baru 21 jenis motif batik asli Banyuwangi yang diakui secara nasional. Jenis-jenis batik Banyuwangi itu salah satunya antara lain: Gajah Oling; Kangkung Setingkes; Alas Kobong; Paras Gempal; Kopi Pecah, dan lain-lain. Semua nama motif dari Batik asli Bumi blambangan ini ternyata banyak dipengaruhi oleh kondisi alam. Misalnya, Batik Gajah Oling yang cukup dikenal itu, motifnya berupa hewan seperti belut yang ukurannya cukup besar. Motif Sembruk Cacing juga motifnya seperti cacing dan motif Gedegan juga kayak gedeg (anyaman bambu). Motif-motif batik yang ada ini merupakan cerminan kekayaan alam yang ada di Banyuwangi. Motif batik seperti di Banyuwangi ini tidak akan ditemui di daerah lain dan merupakan khas Banyuwangi.

Batik Mojokerto

Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh di telinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau surya majapait. Batik Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari. Desain Batik itu Mojokerto mengambil corak alam sekitar kehidupan manusia.  Misalnya motif pring sedapur merupakan gambar rumpun bambu dengan daun-daun menjuntai. Ada burung merak bertengger. Warna dasarnya putih dengan batang bambu warna biru. Sedangkan daunnya warna biru dan hitam. Demikian pula motif gedeg rubuh, coraknya mirip seperti anyaman bambu yang miring. Kalau mrico bolong, motifnya berupa bulatan merica berlubang. Batik Ponorogo Batik Ponorogo terkenal dengan motif meraknya yang diilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di daerah ini. Hingga kini paling tidak sudah 25 corak batik Ponorogo diciptakan. Motif batik lainnya antara lain merak tarung, merak romantis, sekar jagad, dan batik reog.

Batik Tulungagung

Pesona Batik Tulungagung terletak pada tingkat keberanian memadukan warna untuk menghasilkan batik dengan warna yang berbeda. Dari yang kebanyakan berwarna coklat maupun hitam, kini lebih berani dengan memainkan warna yang lebih cerah. Beberapa motif yang paling banyak dibuat di Tulungagung antara lain “buket ceprik gringsing”,”buket ceprik pacit ungker”, serta “lereng buket”. Ketiga motif tersebut merupakan satu di antara 86 motif yang dimiliki para perajin di Tulungagung. Batik Tulungagung, Jawa Timur yang juga dikenal dengan Barong Gung, kini mulai dilirik pengusaha timur tengah. Adalah pengusaha asal Arab Saudi Talal Omar Al Yafee yang berniat memasarkan Barong Gung ke tanah kelahirannya.

Kalimantan

Selama ini yang terkenal hanyalah motif Batik dari pulau Jawa. padahal Kalimantan juga memiliki motif yang tak kalah menarik dan khas. Bila kain Batik Kalimatan Selatan terkenal dengan nama kain Sasirangan, kain batik Kalimantan Tengah terkenal dengan nama Batik Benang Bintik-nya. Motifnya pun variatif dengan warna-warna yang memanjakan selera. Motif yang umum adalah Batang Garing (simbol batang kehidupan bagi masyarakat Dayak), Mandau (senjata khas suku Dayak), Burung Enggang/Tingang (Elang Kalimantan), dan Balanga. Warnanya lebih berani seperti shocking pink, hijau stabilo, merah terang, oranye, dan masih banyak lagi.

Batik Trusmi Cirebon : Jenis-jenis Batik

Sulawesi

Sulawesi juga memiliki motif batik yang beraneka ragama. Sebagai contoh, batik Sulawesi Selatan memiliki motif-motif seperti Toraja, Bugis dan Makassar. Batik Sulawesi Selatan umumnya menggunakan teknik pembuatan yang sama dengan batik Jawa, namun tetap memiliki kekhasan sendiri. Sedangkan di Sulawesi Tengah rata rata mendatangkan bahan baku tekstil batik dari Jawa, namun  pembuatan motifnya dilakukan oleh masyarakat pengrajin batik di Sulawesi Tengah tepatnya di kota Palu dan motifnya sesuai dengan ciri khas motif lokal Palu. Motif yang digunakan batik-batik di Sulawesi Tengah kebanyakan menggambarkan motif burung maleo, motif bunga merayap, motif resplang, motif ventilasi dan motif ukiran rumah adat Kaili ataupun motif bunga dan buah cengkeh.

Papua

Jangan salah, Papua juga memiliki batik dengan motif-motifnya yang khas dan banyak diminati lokal maupun mancanegara. Dibandingkan dengan corak batik dari daerah lainnya di Jawa, batik Papua memiliki perbedaan corak yang cukup mencolok. Batik dari daerah ini cenderung lebih gelap namun banyak memiliki motif yang terdiri dari gambaran patung. batik di Papua selama ini yang paling terkenal adalah batik motif Asmat. Warnanya lebih cokelat dengan kolaborasi warna tanah dan terakota. Soal pemilihan motif batik Papua banyak menggunakan simbol-simbol keramat dan ukiran khas Papua. Cecak atau buaya adalah salah satunya,selain tentu lingkaran-lingkaran besar.Bahannya macam-macam disesuaikan dengan permintaan pasar. Bali Di Bali, industri kerajinan batik dimulai sekitar dekade 1970-an. Industri tersebut dipelopori antara lain oleh Pande Ketut Krisna dari Banjar Tegeha, Desa Batubulan, Sukawati – Gianyar, dengan teknik tenun-cap menggunakan alat tenun manual yang dikenal dengan sebutan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Kerapnya orang Bali mengenakan batik untuk berupacara –sebagai bahan kain maupun udeng (ikat kepala), mendorong industri batik di pulau ini terus berkembang dang maju. Kini di Bali telah tumbuh puluhan industri batik yang menampilkan corak-corak khas Bali, juga corak-corak perpaduan Bali dengan luar Bali seperti Bali-Papua, Bali-Pekalongan, dan lain-lain.

Nusa Tenggara

Daerah Nusa Tenggara juga memiliki batik dengan motif khasnya sendiri. Contohnya adalah batik Sasambo (Sasak Samawa Mbojo) yang dijadikan sebagai pakaian batik resmi lokal NTB. Di NTT, juga terdapat batik. Bahkan setiap pulaunya bisa menghasilkan batik dengan keunikan masing-masing. Pulau Sumba misalnya batik tenunnya khas dengan motif hewan. Pulau Rote khas dengan motif daunnya.

Batik Warisan Budaya Indonesia Yang Bernilai Luhur

Bila mengamati ragam busana yang sedang tren saat ini, maka akan terlihat begitu pesatnya perkembangan fashion di Indonesia. Termasuk diantaranya adalah batik yang telah mengalami transformasi fungsi yaitu dari batik sebagai busana untuk acara-acara resmi menjadi batik yang dapat dikenakan sebagai busana dalam berbagai kesempatan dan kepentingan. Batik sendiri mempunyai sejarah panjang sehingga dapat disebut sebagai warisan budaya Indonesia yang sudah berlangsung secara turun-temurun.

Secara etimologi, kata batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti lebar, luas, kain; dan “titik” yang berarti titik atau matik (kata kerja membuat titik) yang kemudian berkembang menjadi istilah “batik” yang berarti menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang luas atau lebar.
Batik di Indonesia secara historis sudah dikenal sejak abad XVIII. Batik ditulis pada daun lontar yang didominasi dengan motif bentuk binatang atau tanaman. Namun dalam perkembangannya, corak-corak tersebut beralih menjadi motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang, cerita rakyat, dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak dan teknik muncul seni batik tulis seperti yang dikenal saat ini.

Corak dan warna batik tradisional sangat bervariasi macamnya sesuai dengan filosofi dan budaya yang beragam di tiap-tiap daerah. Khasanah budaya Indonesia yang begitu kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisional dengan ciri tersendiri. Jadi walaupun batik berasal dari bahasa Jawa, namun sebenarnya tradisi membatik telah tersebar lebih dahulu di berbagai wilayah Nusantara seperti, Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Corak batik juga mendapat pengaruh dari luar yang dibawa oleh pedagang asing, seperti bangsa China, ataupun pengaruh dari bangsa Belanda.

Corak batik yang beragam ini dibuat dengan teknik penulisan di atas sehelai bahan berwarna putih yang terbuat daru kapas atau sering disebut kain mori. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin (malam) dengan menggunakan alat yang dinamakan canting sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain tersebut kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, dengan beberapa kali proses pewarnaan. Dengan teknik seperti ini, akan menghasilkan kain yang disebut “Batik Tulis”.

Pembuatan batik tulis harus dilakukan dengan tingkat ketelitian dan kesabaran yang tinggi karena membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan dalam pengerjaannya sehingga pada masa lampau khususnya di Jawa, pekerjaan ini secara eksklusif dilakukan oleh kaum perempuan. sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.

Pada masa itu, batik hanya dikerjakan terbatas di kraton (istana) dan dijadikan sebagai pakaian untuk keluarga kerajaan. Hingga kemudian batik mulai dikenakan oleh pengikut istana dan selanjutnya meluas di kalangan rakyat jelata. Dengan penyebaran ini menyebabkan semakin berkembangnya motif batik di dalam masyarakat. Batik dengan motif tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang, sehingga ada beberapa motif yang hanya dipakai oleh keluarga tertentu. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tradisional yang hanya dipakai oleh keluarga kraton Yogyakarta dan Surakarta.
Secara filosofis motif batik mempunyai fungsi dan kegunaan masing-masing sesuai dengan kebudayaan daerah setempat. Misalnya saja di pulau Jawa, batik telah menyebar ke berbagai wilayah seperti Mojokerto, Tuban, Sidoarjo, Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, hingga Cirebon. Daerah-daerah ini mempunyai adat, tradisi, dan budaya yang berbeda satu sama lain.

Nilai-nilai tersebut akan tertuang dalam bentuk motif batik yang akan menyampaikan pesan dari sang pemakai. Sebagai contoh dalam batik gedog Tuban, motif batik Gringsing yang berasal dari gering (bahasa Jawa) yang berarti kurus. Harapannya, pemakai batik gringsing tidak akan kurus lagi, yang lebih jauh memiliki filosofi keseimbangan dalam kemakmuran dan kesuburan. Untuk tema pernikahan, mulai dari batik pada saat melamar, hantaran hingga paska pernikahan, antara lain menggunakan batik Mahkota dari Sidoarjo yang menandai bahwa pemakai batik yang akan menikah tersebut merupakan orang terpandang.

Di Surakarta dan Yogyakarta, motif batik berhubungan dengan makna filosofis dalam kebudayaan Hindu-Jawa. Pada beberapa motif yang dianggap sakral dan hanya dipakai pada kesempatan dan peristiwa tertentu. Misalnya motif Sida Mukti, yang secara harafiah berarti “menjadi berkecukupan”, kemudian motif Wahyu Tumurun (turunnya wahyu), yang digunakan hanya untuk upacara jumenengan (perayaan ulang tahun naik tahta). Sementara motif Parang yang bernuansa ramai dipakai pada saat pesta atau perayaan. Sedangkan untuk melayat, digunakan warna yang lebih lembut yaitu motif Kawung. Keempat motif batik tersebut hanya diperuntukan bagi keluarga keraton, dan tidak boleh digunakan oleh rakyat jelata. Di luar empat motif batik tersebut, tentu masih terdapat banyak motif lain.

Di kraton Yogyakarta, terdapat aturan yang resmi mengenai penggunaan kain batik ini. Ketika ada acara hajatan perkawinan, kain batik haruslah bermotif idoasih, Taruntum, Sidomukti, Sidoluhur, dan Grompol. Sedangkan untuk mitoni, biasa menggunakan motif Picis Ceplok Garudo, Parang Mangkoro, atau Gringsing Mangkoro.

Kemudian Cirebon sebagai salah satu pusat kebudayaan Islam Jawa yang mendapat pengaruh kental dari China, memiliki motif batik yang terkenal yaitu motif Megamendung yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas. Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Pemakainya batik ini diharapkan akan selalu mengingat nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupannya.

Dari berbagai jenis motif batik tersebut memberikan gambaran nilai-nilai sosial, kultural dan ketuhanan yang ada pada masyarakat Indonesia kemudian disampaikan dalam wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna filosofis yang akan terus menggemakan kekuatan budaya bangsa Indonsesia.

Seiring dengan perkembangan jaman, batik telah berevolusi menjadi busana yang dinamis dan cocok bagi semua kalangan, termasuk anak muda. Hal ini nampak dengan semakin suburnya industri batik kontemporer atau konsep tradisional modern dengan corak yang sesuai dengan tren tetapi tidak melupakan esensi dari seni batik itu sendiri. Batik pun telah mengalami ekspansi media dari yang semula hanya digunakan sebagai busana, kini batik telah menjadi corak berbagai macam kerajinan seperti topeng, patung, hingga furniture, dan perabot rumah tangga lainnya.

Kini Indonesia semakin giat memperkenalkan dan memasarkan batik ke seluruh dunia sebagai warisan budaya yang unik dan indah namun tetap sesuai dipadu-padankan dengan dinamisme kehidupan modern. Indonesia juga patut berbangga karena sejak 2 Oktober 2009, batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)

cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik cirebon batik