Batik Cirebon – Melancong Pacu Industri Batik Nusantara

Batik Cirebon Menteri Perindustrian Saleh Husin membidik tren aktivitas perjalanan sebagai pemacu pengembangan batik Indonesia.

Motif batik Nusantara kini semakin beragam, dan menjadi pilihan menarik sebagai buah tangan.

“Mari kita perbanyak koleksi baju motif batik setiap travelling ke lain daerah, sehingga pengembangan batik-batik Nusantara makin bergairah,” kata Menperin Saleh Husin saat meresmikan pembukaan Pameran Batik Warisan Budaya VIII, di Jakarta, Selasa (29/9/2015).

Batik Cirebon Saleh mengatakan, pemakaian batik dari banyak daerah juga dapat menjadi promosi secara viral dan kebanggaan personal seseorang pernah mengunjungi suatu daerah tempat asal motif batik.

“Kita dapat turut menjaga batik tetap lestari dengan menggunakan dan membeli batik sehingga pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) batik maupun pekerja seni batik kontemporer dan tradisional tetap setia dengan profesinya,” ujarnya.

Batik telah menjadi identitas budaya Indonesia yang semakin kuat. Bahkan United Nation Education Scientific and Cultural Organization (Unesco) menetapkan batik sebagai warisan budaya (World Herritage) tak benda pada 2 Oktober 2009.

Batik Cirebon Menperin menambahkan, banyak tokoh yang telah memakai batik Indonesia dalam acara pemerintahan seperti halnya tokoh dunia seperti Nelson Mandela, Bill Clinton dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Jika ditelusuri secara lebih dekat, batik yang menjadi World Heritage bukan terletak pada kain batiknya, melainkan melalui teknik dan prosesnya.

Beragam Motif

Batik Indonesia memiliki beragam motif dengan esensi filosofi, desain yang menarik, dan nilai seni yang sangat tinggi serta metode pengerjaan batik baik dengan dicetak ataupun dikerjakan dengan tangan atau canting (batik tulis) yang keduanya telah menjadi ciri khas batik Indonesia yang diakui dunia.

Juragan Batik – Beberapa minggu lalu, Kemenperin menggelar Lomba Desain Batik Khas Teluk Tomini, dalam rangka Sail Tomini 2015 di Parigi Moutong Sulawesi Tengah yang diikuti 150 peserta, di mana pada acara puncak,  penghargaan diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Guna melestarikan seni batik, pemerintah memberikan penghargaan berupa perlindungan bagi para pembatik untuk hasil karya intelektualnya.

Perlindungan karya batik diberikan melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kesalahan penggunaan dan pemanfaatan budaya batik tradisional Indonesia.

Pada pameran ini, Menperin juga mengapresiasi Yayasan Batik Indonesia yang telah berperan penting dalam mewujudkan transformasi kultural menuju modernisasi masyarakat batik, baik sebagai perajin, desainer maupun pengguna. Pameran batik ini digelar sejak 29 September – 2 Oktober 2015. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Hari Batik Dunia, Industri Batik Diharapkan Berkembang

Batik Cirebon – Pemerintah Yogyakarta berharap industri batik berkembang dari pelaksanaan Pameran Hari Batik Dunia 2015, pada 2 sampai 6 Oktober, di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Harapan itu tertuju pada pertumbuhan ekonomi pascapelaksanaan pameran.

“Kami harap nantinya bisa menumbuhkan ekonomi dan kesejahteraan perajin batik,” kata Kepala Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Yogyakarta, Syahbenol Hasibuan saat jumpa pers di Gedung Pracimosono, Kepatihan, Yogyakarta, Senin (28/9/2015).

Batik Cirebon – Saat ini diperkirakan ada sebanyak 241 motif batik di Yogyakarta. Data tersebut hanya berdasarkan batik yang memiliki filosofi dan makna dari 6.000 lebih perajin. Dengan alasan tersebut, menurutnya, menjadi dasar untuk bisa meningkatkan ekonomi dan kualitas batik di Yogyakarta.

“Kami mengimbau pada Hari Batik Dunia, orang Jogja mengenakan batik, termasuk para pedagang di sepanjang Jalan Malioboro. Bukan mengenakan kaos motif batik, namun benar-benar baju batik,” katanya.

Juragan Batik – Ia menjelaskan, setelah pemerintah Yogyakarta menerima penghargaan dari World Craft Council (WCC) pada Oktober 2014 silam, bakal ada pemantauan secara konsisten mengenai perkembangan batik di Yogyakarta. Pemantauan itu sebagai bahan evaluasi selama empat tahun setelah pemberian penghargaan. “Apakah konsisten atau malah sebaliknya,” ujar dia.

Syahbenol menambahkan, ada sebanyak tujuh kriteria bahan penilaian yang juga sesuai dengan yang dimiliki WCC. Di antara tujuh kriteria itu yakni berkaitan dengan keaslian, ekonomi, keberlanjutan, lingkungan hidup, kaderisasi, dan ketenagakerjaan.

“Tahun lalu kita sudah memulai dengan acara membatik 3.000 meter yang melibatkan 3.000 perajin batik. Kami berharap batik Yogyakarta bisa terus berkembang setiap tahunnya,” kata dia. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Pelopor Menggunakan Batik Bekasi

Batik Cirebon – Mulai hari Kamis depan, para siswa kelas I SDN  Durenjaya VI ke sekolah menggunakan pakaian batik, sedangkan bawahannya menggunakan  berwarna putih.

Batik berwarna merah dengan motif ikan gabus pucung ini terasa sangat istimewa bagi SDN  Durenjaya VI. Pasalnya, selain batik tersebut merupakan khas Bekasi, seragam dengan motif ikan gabus ini  merupakan yang pertama di Bekasi.

Batik Cirebon – “Pembelian baju batik ini bukan menggunakan dana BOS, tapi berkat  kerja  sama SDN Durenjaya VI dengan seorang  pengusaha di bidang properti Nurdiyan Fajar yang  berkantor  di Rawalumbu. Dia menjadi donatur, hal ini perlu saya  sampaikan dikhawatirkan  orang  tua  siswa  kelas  lain menanyakan kenapa  hanya siswa kelas satu yang diberikan,” kata Kepala Sekolah SDN Durenjaya VI, Karju Hasan Syafri.

Dia mengaku, nantinya seluruh siswa dari kelas I hingga kelas VI akan mengenakan seragam batik serupa. Namun, pemberiannya dilakukan secara bertahap. ”Ya secara bertahap. Baju batik ini merupakan baju batik yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Bekasi, dan kami menjalankan setiap hari Kamis wajib memakai batik ini untuk para siswa,“ ungkapnya.

Juragan Batik – Menurutnya, saat ini belum ada satu sekolah di Kota Bekasi yang menggunakan baju batik   dengan warna dasar merah dengan motif dua ikan gabus pucung. Dia mengaku, nantinya akan dipatenkan.

“SDN Durenjaya VI bisa dibilang sebagi pelopor penggunaan baju batik ciri khas Bekasi bagi siswanya. Dan memang kami sekolah pertama yang menggunakan batik dengan motif ikan gabus sebagai seragam sekolah,” paparnya.

Sementara, orang tua siswa Nova Santika menyambut gembira  dengan pembagian baju  batik  kepada siswa kelas satu secara gratis kepada siswa.

“Kami senang  sekali dengan pembagian baju  batik ini,  karena dengan baju batik ini bisa mengenal baju batik asli Bekasi. Saya sebagai orang tua murid sangat bangga ternyata Bekasi tidak kalah dengan kota lain yang mempunyai batik,” pungkasnya. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Batik Brebesan Sudah Dikenal Sejak 1917

Batik Cirebon – Batik salem atau yang dikenal dengan motif batik brebesan adalah salah satu kekayaan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang telah menjadi komoditas ekonomi warga Desa Bentar, dan Bentarsari, Kecamatan Salem, bertahun-tahun lalu.

Keberadaan batik brebesan muncul sejak 1917. Dari perkembangannya, saat ini batik salem telah memunculkan berbagai motif, di antaranya motif kopi pecah, manggar, dan ukel dengan ciri khas hitam dan putih.

Batik Cirebon – Salah satu pemerhati kerajinan batik yang juga pengusaha batik asal Semarang, Widianingsih Sunandar, mengatakan, motif batik salem memiliki keunggulan tersendiri. “Saya telah membawa batik salem untuk dijual di galeri milik saya di Semarang,” kata Widianingsih, kepada Metrotvnews.com, Sabtu (26/9/2016).

Keberadaan batik salem yang memiliki keindahan dalam bentuk dan ragam corak terus dipopulerkan oleh para pengrajin. Salah satunya dengan mempromosikannya ke sejumlah pegawai di lingkungan pemkab Brebes.

Juragan Batik – Lusiana Indira Isni, pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas di Kantor Bagian Humas dan Protokol Setda Brebes sebagai Kasubag Humas, mengaku sudah lama menggunakan batik salem sebagai pakaian keseharian. Menurutnya, batik salem merupakan salah satu produk unggulan Kabupaten Brebes.

“Saya senang makanya saya pergunakan batik salem sebagai pakaian keseharian. Selain itu, coraknya yang beragam membuat batik salem sangat cocok untuk busana kerja,” kata Lusi. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Toilet Industri Dapat Kurangi Dampak Limbah Batik

Batik Cirebon – Komunitas Biji Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mengenalkan sebuah inovasi toilet industri sebagai upaya mengurangi dampak pencemaran limbah industri batik rumahan.

Batik Cirebon – Ketua Komunitas Biji Pekalongan, Andi Setiawan di Pekalongan, Kamis (24/9), mengatakan bahwa sistem kinerja tolilet industri ini relatif sederhana tetapi mampu mengurangi dampak limbah yang dihasilkan oleh industri batik. “Toilet industri mempunyai fungsi mengurangi tingkat pencemaran limbah batik yang selama ini dibuang ke sungai,” katanya.

Juragan Batik – Menurut dia, inovasi toilet industri tersebut sudah diujicobakan pada salah satu pengusaha batik di Banyurip Alit, Kota Pekalongan. “Dari hasil itu dapat mengurangi dampak dari limbah baik aroma dan warnanya berkurang meski masih relatif sedikit,” katanya.

Ia berharap pada para pelaku industri mau melakukan cara sederhana ini agar limbah batik tidak langsung dibuang ke sungai tetapi terlebih dahulu disaring. “Jika, pemilik industri batik peduli terhadap lingkungan bersih maka pencemaran limbah yang selama ini dibuang ke sungai dapat dikurangi,” katanya. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – KBRI Madagaskar Laksanakan Diplomasi Batik

Batik Cirebon – KBRI Antananarivo melaksanakan promosi batik dengan mengadakan demonstrasi pembuatan batik oleh dosen ISBI (sebelumnya STSI) Bandung Ari Winarno bertempat di kantor KBRI di Madagaskar.

Kegiatan pengenalan serta demonstrasi pembuatan batik Indonesia ini dilakukan guna menjawab keinginan dari berbagai kelompok pemangku kepentingan di Madagaskar untuk belajar dan bertukar pengalaman di bidang kerajinan tangan terutama lukisan batik Indonesia, demikian keterangan KBRI Antananarivo dalam keterangan yang diterima Antara, Jumat.

Batik Cirebon – Demonstrasi batik digelar atas kerja sama KBRI dengan ISBI Bandung itu merupakan salah satu tindak lanjut kunjungan Tim ISBI Bandung ke Madagaskar tahun 2013 yang juga menghasilkan naskah kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Kerajinan Tangan.

Demonstrasi batik Indonesia di Madagaskar ini merupakan salah satu upaya mempromosikan budaya dan sektor kerajinan tangan Indonesia melalui “capacity buildings”.

Juragan Batik – Acara dihadiri antara lain Kalangan oleh diplomatik di Madagaskar Istri Dubes India, Jepang dan Aljazaiir, DWP, Alumni, Staf Kementerian Kerajinan Tangan Madagaskar dan anggota Organisasi Wanita AMIF/AAM serta Media.

Demo batik dilanjutkan pada Festival Kuliner Haify Mampihavana di Andohalo mengusung tema “Nusantara” yang digelar dari tanggal 25 sampai 27 September.

KBRI Antananarivo, selanjutnya akan mengelar Acara Terpadu Promosi TTI dan Budaya bagian dari Indonesia Incorporated to Madagascar untuk promosi TEI 2015, Promosi Pariwisata dan Budaya Indonesia melalui Batik, Tarian dan juga Kuliner Indonesia. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Gubernur Lawan Penebar Isu Limbah Batik

Batik Cirebon – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyatakan siap melawan siapapun yang menebar isu limbah batik dengan tujuan mematikan batik di Pekalongan.

Menurut Ganjar, limbah tidak boleh menjadi penghalang untuk batik bisa bertumbuh hingga menguasai pasar dunia. “Saya tidak mau ada orang yang isukan limbah batik untuk mematikan batiknya. Saya akan lawan,” tegas Ganjar saat berkunjung ke CV Ravena Batik Garmenindo Pekalongan, Rabu (23/9).

Batik Cirebon – Pernyataan Ganjar itu muncul setelah mendapatkan laporan ada masyarakat yang pesimis dengan kondisi limbah batik di Kota Pekalongan dengan cara memakai kaos yang bertuliskan ‘Pekalongan Kota Limbah Batik’. “Itu harus ditelusuri, apa motifnya, siapa yang memberi kaosnya itu,” kata Ganjar.

Isu limbah batik jugalah yang membuatnya kembali berkunjung ke Kota Pekalongan. Ganjar mengaku dalam kunjungannya beberapa waktu lalu, dia sempat berbincang dengan masyarakat yang mengeluhkan kondisi limbah batik. Namun selain keluhan, Ganjar juga mendapat banyak masukan tentang masyarakat yang sudah melakukan terobosan-terobosan dengan membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sederhana secara mandiri.

“Ada yang sudah membuat alternatif-alternatif IPAL, salah satunya disini (CV Ravena). Saya tadi sudah lihat bagaimana sistemnya IPAL disini. Tapi juga butuh pengujian apakah hasil IPALnya sudah baik, itu harus ke Semarang. Tadi saya tanya apakah Pemkot sudah punya alat uji, ternyata sudah. Itu yang akan kita dorong, percepat agar alat Pemkot mendapat sertifikasi,” politisi asal PDIP itu.

Batik Cirebon – Selanjutnya, dia meminta owner CV Ravena untuk mengirimkan hasil uji dan Jumat akan dilihat hasilnya, apakah hasil akhir IPAL disana sudah memenuhi standar. Jika memang dinyatakan layak, Ganjar mewacanakan untuk mereplikasi sistem IPAL disana untuk digunakan diperusahaan-perusahaan batik di Jawa Tengah.

Selain meninjau IPAL, Ganjar juga menyempatkan diri berkeliling di lingkungan pabrik melihat proses pembatikan. Dia bahkan sempat mencoba ‘nguwuk’, yaitu salah satu proses untuk mengkilatkan kain batik yang sudah jadi. “Sulit ndak? Saya ingin nyoba,” kata Ganjar saat melihat proses tersebut. “Berat ternyata,” katanya lagi.

Selain di CV Ravena, Ganjar juga mengunjungi IPAL Kauman dan toilet industri yang dicetuskan Komunitas Biji (Kombi) di Kelurahan Banyurip. “Sudah muncul inovasi dari masyarakat bagaimana mengatasi limbah. Ini yang perlu didukung agar terus dikembangkan, sehingga bisa jadi solusi,” pesannya.

Sementara itu, Owner CV Ravena, Muhammad Ali Jufri menjelaskan bahwa IPAL yang dibuatnya merupakan IPAL dengan teknik sederhana yaitu menggunakan cairan organik. IPAL yang dibuat bersama LP2NU Kota Pekalongan tersebut, sudah didirikan sejak Januari 2015. “Sejak Januari sudah menyisiasati dengan teknik sederhana. Walaupun belum maksimal saya anggap berhasil, karena warna sudah berkurang,” tuturnya.

Batik Cirebon – Mengenai sistem yang digunakan, dia menjelaskan air limbah disaring dengan beberapa bahan alam seperti ijuk, batu zeloit dan batu apung, kemudian diberi cairan organik. Pertama kali membuat, Ali Jufri mengaku menghabiskan dana sekitar Rp2 juta. Namun jika disederhanakan, dia yakin ongkos yang dikeluarkan akan lebih irit. “Saya perkirakan jika disederhakanakan untuk pengrajin kecil mungkin hanya Rp200 ribu biayanya,” tambah dia lagi.

Menurut Ali Jufri, ongkos Rp2 juta yang dikeluarkannya terbilang kecil jika dibandingkan dengan IPAL yang menggunakan mesin. “Hasil ini akan coba kami tularkan ke teman-teman pengusaha lain,” akunya.

Juragan Batik – Pj Walikota Pekalongan, Prijo Anggoro menambahkan, batik sudah berkembang menjadi ikon Pekalongan dan memberi banyak manfaat mulai dari menyerap tenaga kerja hingga membangkitkan ekonomi masyarakat. “Ada efek domino yang ditimbulkan, tapi juga punya dampak yaitu menyisakan limbah,” kata Prijo.

Tapi setelah tadi berkunjung ke beberapa IPAL, Prijo yakin masalah limbah bisa teratasi. Karena banyak masyarakat yang sudah melakukan inovasi untuk mengatasi masalah itu. “Stakeholder banyak pamerkan teknik-teknik untuk mengurangi limba yang sebelumnya hitam bisa dikurangi. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Batik Cap Tiongkok Mengancam Produk Batik Lokal

Batik Cirebon – Batik cap asal Tiongkok dengan motif yang sama persis dengan produk lokal Indonesia menjadi ancaman serius bagi produksi batik cap lokal dari Yogyakarta, Pekalangan, Cirebon, dan Solo. Produk batik yang dikenal dengan istilah batik mekanik tersebut telah merangsek pasar dan menguasai pangsa di berbagai kota di tanah air sebesar 25-30 persen.

Dosen Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Dr Taufiq Immawan menyatakan ancaman pangsa batik juga datang dari Malaysia, tetapi eskalasi ekspor batik Malaysia tidak sebesar batik asal Tiongkok, sehingga tidak terlalu memengaruhi pasar di Indonesia.

Batik Cirebon – Dalam pernyataannya di Yogyakarta, Selasa (22/9/2015), dia menyatakan pasar batik tanah air sebenarnya tengah mencapai masa panen sejak UNESCO mengukuhkan Batik Indonesia sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2 Oktober 2009, yang diikuti penetapan tanggal tersebut sebagai hari batik nasional.

Berdasarkan penelitian Taufiq Immawan, penjualan batik Solo, Yogyakarta dan Pekalongan melonjak. Pasar batik solo meningkat omzet penjualannya antara 30 – 50 persen (2010) dan 200 persen tahun berikutnya (2011). Peningkatan pada kisaran yang sama berlaku di pasar-pasar di Yogyakarta dan Pekalongan.

Juragan Batik – Melihat pasar batik meningkat tajam, produsen Tiongkok alias China menggempur pasar batik di berbagai kota di Indonesia. Batik Tiongkok bisa dikategorikan sebagai batik cap, tetapi produksinya menggunakan mesin atau disebut batik mekanik. Ekspor batik mereka sangat massif, sebagai contoh batik asal China selama tiga bulan pertama 2013 (Januari-Maret) masuk pasar Indonesia sebanyak 159 ton, dengan nilai 4.6 juta dolar AS atau setara Rp 43.7 miliar.

“Perkembangan ini sudah mengkhawatirkan, karena mengurangi pangsa pasar batik nasional,” kata dia saat memaparkan hasil penelitian untuk melengkapi data disertasi di Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Akik Batik Arjuna Jadi Primadona Baru Warga Wonogiri

Batik Cirebon – Eksistensi batu akik kini kian redup. Namun bagi kolektor, pesona batu akik tak kunjung hilang walaupun sesaat. Karena setiap penggemar dan pemilik batu mulia dan akik akan merasa senang dan bangga atas koleksi batu-batu miliknya yang didapat dari berbagai daerah, termasuk di Indonesia.

Salah satu jenis batu yang saat ini menjadi primadona warga Wonogiri, Jawa Tengah, yaitu batu jenis batik arjuna. Eksistensinya saat ini, mulai menyaingi batu jenis  fire opal atau barjad api

Batik Cirebon – Menurut Akta Yudha, pemilik lapak jual-beli batu mulia dan akik di Jalan Veteran Yogya, batu batik arjuna tergolong jenis batu baru yang ditemukan di Wonogiri. Jenis batu ini belum banyak diperjualbelikan.

Ciri khasnya, ia menjelaskan, batu tersebut dihiasi motif menyerupai batik. Bahkan jika beruntung, dapat ditemukan motif gambar seperti pemandangan, huruf, angka, sosok maupun satwa.

Batik Cirebon – Sementara tingkat kekerasan batu batik arjuna, yakni sekira tiga sampai lima skala mohs. Mengenai harga jualnya, batu asal Wonogiri itu dibanderol sekira Rp100 ribu untuk satu buah batu yang jadi.
“Kami sudah menyediakan jenis batu akik berasal dari Wonogiri ini, baik masih bahan maupun sudah digosok. Harga sudah digosok rata-rata Rp 100.000 perbiji, ketika ditemukan gambar dan berkualitas ada yang sampai Rp 2 juta perbiji,” ungkap Yudha, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, untuk mengukur kualitas sebua batu, penilaian didasarkan pada tingkat kejelasan gambar, warna, keunikan, kelangkaan, dan jenis batunya. Ketika menemukan motif gambar dalam batu, namun gambar tak jelas atau tak detail, biasanya akan dihargai lebih murah.

Juragan Batik – Ketika diikutkan lomba, nilai yang dikumpulkan juga tak bisa maksimal. Ia sendiri mempunyai sejumlah jenis batu bergambar yang dikoleksi, bahkan dalam satu liontin ditemukan sampai delapan gambar.

“Liontin dengan delapan gambar ini sudah kami banderol Rp8 juta. Lain halnya dengan motif gambar Gunung Merapi meletus cukup Rp4 juta,” papar Yudha sembari menunjukkan batu bergambar yang dimaksud. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Rupiah Loyo, Omzet Perajin Batik di DIY Anjlok 50%

Batik Cirebon – Dampak pelemahan nilai tukr rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih terus berlanjut. Perajin batik termasuk yang terkena imbas tidak langsung, yakni penurunan omzet hingga 50% dibanding sebelum pelemahan nilai tukar rupiah.

“Contohnya saja rata-rata omzet dari sejumlah outlet kami miliki adalah 50-100 potong pakaian per pekan. Tapi sekarang berkurang menjadi 20-30 potong per pekan,” kata Vitalia Nur Darmaningsih, salah satu perajin di Kota Yogyakarta, kemarin.

Batik Cirebon – Menurutnya, dari sisi produksi pelemahan nilai tukar rupiah tidak memberi pengaruh apa pun. Sebab, sebagian besar bahan baku yang digunakan untuk memproduksi batik adalah produk dalam negeri. Pengaruh justru brasal dari konsumen yang terus mengurangi volume pembelian batik.

Dia menambahkan, kondisi yang dialami saat ini tidak membuatnya menaikkan harga produk. Pihaknya juga memastikan tetap berusaha mempertahankan kualitas produk seperti sebelumnya. Vitalia memproduksi fashion batik kombinasi cap dan tulis.

Batik Cirebon – “Saya tetap berusaha bertahan dan tetap menjalankan bisnis seperti biasa, perajin-perajin batik yang lain juga seperti itu,” terangnya.

Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta Tri Karyadi Riyanto mengatakan, upaya yang bisa dilakukan perajin adalah dengan beralih ke pewarna alam.

Juragan Batik – “Perajin batik bisa beralih menggunakan pewarna alam dari sebelumnya pewarna sintetis. Ini untuk antisipasi apabila harga perwarna sintetis tiba-tiba melonjak akibat terpengaruh pelemahan rupiah,” kata dia.

Vitalia mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing justru bisa dimanfaatkan perajin untuk mengekspor produknya. Pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga produk menjadi lebih murah dibanding produk lain.

“Kami berupaya terus meningkatkan pembinaan terhadap perajin kecil dan menengah untuk peningkatakan kualitas produk dan inovasi,” tandasnya. ( Batik Cirebon )