Batik Cirebon – Dara Ini Tekuni Bisnis Batik Telenan

Batik Cirebon – Dara bernama Rizqyana Saraswati (24) ini telah menambatkan hatinya kepada kebudayaan Indonesia, yakni batik.

Kecintaan terhadap batik pun menuntunnya untuk menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan seni Kerajinan, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Yogyakarta.

Batik Cirebon – Bahkan di usianya yang masih belia, gadis kelahiran Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, 8 Juni 1991, tersebut telah menekuni bisnis batik. Produk hasil karyanya tersebut dilabeli dengan nama Batikianart.

Tak hanya menjual batik kain yang dibandrol harga Rp400 ribu per lembar, ia juga merambah bisnis suvenir. Keisengannya dalam melukis batik di atas telenan, mendapatkan respons yang bagus dari temannya.

Dari sana ia mulai menggiati batik telenan sebagai salah satu produk bisnisnya yang baru.

Juragan Batik – Kemahirannya dalam menggunakan canting, dan juga pengalaman hidupnya, membuat gadis yang akrab disapa Kiki ini tak berhenti membuat karya baru dengan tema antimainstream.

Ia tak hanya berpatok pada pakem batik Nusantara yang sudah ada; batik buatannya lebih banyak dihiasi motif ukel dan abstrak.

Ketekunannya dalam bereksperimen tersebut, membuatnya mendapat respons yang baik pada pameran Tugas Akhir, belum lama ini. Ia menyuguhkan pameran berjudul Batik Dayak Kenyah.

“Kemarin setelah ujian, aku masih harus ngurus revisi dan lain-lain. Jadi sibuk banget. Nanti setelah yudisum, rencananya mau ngebatik lagi. Ini juga ada beberapa temenku yang tertarik buat nitipin batiknya di butikku. Seneng deh bisa berkembang bisnisnya,” tutur Kiki, Kamis (29/10), di Yogyakarta. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Begini Cara Merawat Batik Tulis Kesayangan Agar Tetap Awet

Batik Cirebon – Sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia, kain batik adalah salah satu barang yang harus mendapatkan perawatan istimewa. Nah, buat kamu yang suka mengoleksi batik tulis, maka inilah beberapa cara yang dapat kamu lakukan supaya baju batik kamu tetap awet.

Merawat batik tulis memang tidak bisa asal-asalan, perawatannya tentulah berbeda dengan batik printing atau batik cap. Sebagai sebuah kain berharga yang memiliki cerita atau filosofi pada saat pembuatannya, maka tidaklah heran jika kamu harus merawatnya supaya warna tidak pudar. Simak tips perawatan batik tulis berikut ini.

Batik Cirebon – Simpanlah batik tulis di tempat yang kering dan tidak lembab. Pastikan kamu menaruh di tempat yang bersih dan terhindar dari paparan cahaya matahari secara langsung.

Sebelum ditaruh kedalam lemari, kamu bisa membungkus kain batik dengan kertas yang tidak bersifat masam. Jangan lupa kamu juga harus menaruh wewangian di dalam lemari supaya koleksi batik kamu tetap wangi dan tentu saja jauh dari ngengat perusak kain.

Juragan Batik – Secara rutin kamu harus membuka lemari tempat penyimpanan kain batik, paling tidak biarkan kain bernapas selama 15 menit. Setelah itu kamu bisa menutup rapat kembali lemari kamu. Kalau kamu benar-benar ingin koleksi batik tetap awet, maka jangan pernah mencoba mencuci batik dengan mesin cuci. Cucilah dengan cara manual, dan cucilah dengan sabun bayi supaya lebih aman.

Hindari menyetrika batik, kalaupun terpaksa kamu harus memberi lapisan di atas kain batik sebelum menyetrika. Aturlah setrikaan dengan tingkat kepanasan sedang. Itulah beberapa cara merawat kain batik tulis agar tetap awet. Ingat, kalau kamu memang ingin koleksi batik tulis itu turun temurun hingga ke anak dan cucu kamu, maka kamu harus merawatnya dengan sungguh-sungguh. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Batik Tegal, Perpaduan Budaya yang Unik Bernuansa Alam

Batik Cirebon – Batik Tegal tidak mungkin terlupakan saat kita sedang membahas batik di Indonesia. Walaupun tidak sepesat Pekalongan, Solo dan Yogyakarta, keindahan batik Tegal tetap memesona para pencinta batik di Tanah Air sampai ke mancanegara.

Awal mula sejarah batik Tegal tidak bisa dipisahkan dari budaya berpakaian batik yang dibawa Raja Amangkurat I (Sunan Amangkurat Mas). Ketika melakukan pelarian dari Keraton Kasunanan Surakarta ke Tegal (Arum), gaya pakaian batik punggawa yang menetap di Tegal memengaruhi gaya batik Tegal. Perkembangan batik Tegal kembali ditandai oleh kiprah istri Bupati Tegal, RM Sajitno Reksonegoro IX, yang bernama R. A. Kardinah. Pada 1914, R. A. Kardinah mendirikan sekolah putri Wisma Pranawa, Sekolah Kepandean Putri. Salah satu kurikulum yang diajarkan adalah membatik. Di sinilah corak Jepara berakulturasi dengan batik lokal.

Batik Cirebon – Fimelova, yang istimewa dari batik ini salah satunya adalah motif atau coraknya. Muncul dari hasil perpaduan budaya, corak batik Tegal nampak unik, dekoratif dan ekspresif. Corak batik klasik (Mataraman) yang sudah ada sejak lama menjadi nampak lebih luwes di pola, corak dan motifnya berpadu dengan corak Jepara yang lugas dan dekoratif.

Batik Cirebon – Nuansa itu yang kini menjadi ciri khas batik asal Tegal. Pada batik Tegal, kamu bisa menemukan corak dan motif alam seperti segara dan ombak-ombakan. Motif flora yang kental seperti kawung, cempakaputih, beras mawur, benang pedhot, mayang jambe, blarak sempal, tumbar bolong dan grandil juga bisa kamu temukan. Fauna yang biasa ditemukan di Tegal pun dijadikan motif seperti semut runtung, tapak kebo, pipit, garuda, iwak-iwakan dan klabang dan motif lain seperti parang angkik, sawudren, gribigan dan lainnya. Warna hijau jadi warna yang sering ditemui pada batik Tegal. Hal itu, Fimelova, yang membedakan motif batik Tegal dengan daerah-daerah lainnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal sudah melaksanakan beberapa kebijakan untuk semakin memasyarakatkan batik Tegal. Salah satunya adalah dengan mewajibkan seluruh PNS, pegawai BUMD, BUMN, serta pegawai perbankan untuk mengenakan batik tulis khas Tegal. Selain itu, Pemkot Tegal melalui Dekranasda juga melakukan pameran batik tulis Tegal, baik di kota Tegal maupun diluar kota Tegal.

Juragan Batik – Walikota Tegal, Siti Masitha, juga melakukan langkah nyata dengan mengikutsertakan para pengrajin batik Tegal untuk mengikuti pameran, salah satunya di Yogyakarta. Pemkot Tegal juga bekerja sama dengan PT KAI untuk mengubah tampilan gerbong KA Cirebon Ekspres dengan motif batik khas Tegal. Nama kereta juga diubah menjadi KA Tegal Bahari.

“Memang untuk menembus  pangsa lebih luas batik tulis Tegal perlu terobosan seperti  pengembangan motif dan diversifikasi batik tulis menjadi media arsistik. Kita bisa mengubah batik menjadi motif  keramik, korden, kap lampu, hiasan dinding, dekoratif sepatu atau sandal, motif kaos, slayer, taplak meja, sapu tangan dan media lain dengan motif batik Tegal. Pengembangan ini dimaksudkan agar pembatik tidak jenuh dan dapat menggugah produksi agar pangsa pasarnya tidak statis,” ucapnya. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Perancang Busana Suzuki Takayuki, Jatuh Hati dengan Kain Batik

Batik Cirebon – Hasilnya, rangkaian koleksi busana modern yang berpadu unik dengan wastra asli Indonesia. Dalam kolaborasi ini, Takayuki bersama perancang busana Bateeq, Michelle Tjokrosaputro, menghadirkan konsep “Time and Harmony, Aging and Consonance” .

Tema ini terinspirasi dari sejarah dan siluet karakteristik kain yang terus berubah sehingga memengaruhi tren tekstur serta material busana.

Batik Cirebon – Koleksi kreasi Takayuki ini dipersembahkan secara khusus sebagai apresiasinya kepada Indonesia.

Kolaborasi antara Takayuki dengan Bateeq ini menitikberatkan pada inovasi batik melalui pemilihan material, warna, dan motif yang terinspirasi kekayaan budaya Indonesia dengan perkembangan tren terkini.

Tiga motif, seperti sekar kamulyan, kesatrian, dan rangrang, mendominasi keseluruhan koleksi.

Batik Cirebon – “Indonesia memiliki motif batik yang banyak macamnya. Ini pertama kalinya saya melihat pola-pola batik di Indonesia. Saya belum pernah melihat pola-pola unik semacam ini sebelumnya,” ujar Takayuki dalam konferensi pers yang berlangsung di Jakarta Fashion Week 2016, Minggu (25/10/2015).

Pada kesempatan yang sama, Michelle mengakui bahwa Takayuki sangat menyukai kain batik dan secara khusus mengunjungi lokasi pembuatan batik milik Bateeq di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kemudian, Takayuki memilih sendiri kain, motif, dan proses pembuatan batik. Ragam motif yang dipilih oleh Takayuki merupakan motif batik klasik.

Juragan Batik – Dalam 30 koleksi yang ditampilkan, kata Michelle, 11 koleksi di antaranya merupakan hasil kolaborasinya dengan Takayuki.

Michelle menuturkan, koleksi kombinasi busana modern dengan batik Indonesia ini merupakan persembahan khusus Takayuki kepada masyarakat Indonesia.

Menurut Michelle, harapan Takayuki adalah kreasinya dapat diterima oleh pasar Indonesia.

“Takayuki mengaplikasikan batik ke koleksi gaun yang biasa dia ciptakan, karena selama ini dia biasa menciptakan busana dengan warna yang polos dan dasar. Takayuki juga begitu tertarik dengan hijab, sehingga dia menciptakan beberapa scarf dengan sentuhan batik yang dapat dikenakan sebagai hijab,” terang Michelle. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Mengenal Budaya Indonesia, Desainer Jepang Kreasikan Batik di JFW 2016

Batik Cirebon – Pagelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2016 tak hanya menampilkan acuan mode Spring/Summer tahun mendatang dari desainer Indonesia. Sejumlah perancang internasional juga diajak unjuk karya bahkan berkolaborasi dengan desainer serta brand Tanah Air.

Di hari keduanya, Minggu (25/10/2015) pekan mode tahunan yang diselenggarakan di Senayan City, Jakarta Selatan tersebut pun menampilkan desainer asal Jepang bernama Suzuki Takayuki. Pada kesempatan ini Suzuki diajak memanfaatkan batik sebagai material dari koleksi bertema Time and Harmony, Aging and Consonance yang berkolaborasi dengan brand Bateeq.

Batik Cirebon – Desainer kenamaan Negeri Sakura yang baru pertama kali ‘berkenalan’ dengan batik tersebut mengaku mengagumi tekstil khas Jawa itu. Ia pun memilih tiga motif, yakni Sekar Kamulyan, Kesantria, serta Rangrang untuk diterapkan pada 11 dari 30 tampilan yang dihadirkan pada fashion show.

“Saya pilih tiga motif itu karena masih terkesan tradisional tapi kalau dikolaborasikan bisa jadi modern. Batik Indonesia punya banyak warna, itu menjadi tantangan buat saya ketika menggunakan batik,” kata Suzuki Takayuki saat konferensi pers sebelum peragaan di Fashion Tent.

Juragan Batik – Ketiga motif berwarna biru tersebut banyak diterapkan pada scarf, dress, blouse, serta rok yang didominasi warna putih serta potongan longgar. Meski terlihat sangat minimalis di awal-awal, Suzuki dan Bateeq menawarkan permainan potongan asimetris serta ruffle yang cukup menarik di sekuen tengah hingga akhir. Adapun beberapa tampilan yang unik, seperti kemeja dengan kantung besar di bagian depan serta dress A-line bertumpuk ruffle.

Selain budaya dan keindahan tekstil, Suzuki ternyata juga ‎terinspirasi dari gaya hijab wanita Indonesia. Ia pun menghadirkan beberapa tampilan blouse lengan panjang dengan rok atau celana midi berpotongan longgar yang dipadukan hijab berbatik. Hal tersebut juga dilakukan agar koleksi ini bisa diterima secara luas oleh orang Indonesia.

‎Selaku CEO Bateeq, Michelle Tjokrosaputro mengaku senang bekerjasama ini. Terlebih karena koleksi dari kolaborasi tersebut akan dijual di Indonesia. Menurutnya pelanggan Indonesia cukup beruntung karena Suzuki yang dikenal selalu menawarkan item berkualitas akan menghadirkan rangkaian busananya dengan harga terjangkau.

‎”Koleksi ini diprioritaskan untuk masyarakat Indonesia. Suzuki koleksinya sangat luar biasa mahal di Jepang. Tapi karena ingin diterima masyarakat Indonesia dia bikin khusus dengan harga yang lebih terjangkau. Sepertinya akan keluar tahun depan,” ungkap Michelle. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Ratu Denmark Kagumi Batik Pewarna Alam

Batik Cirebon – Ratu Denmark Margrethe II yang didampingi Menteri Luar Negeri Denmark Kristian Jensen melakukan kunjungan ke Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta sekitar 35 menit, Sabtu siang (24/10). Dalam kunjungan itu, dia menyatakan ketertarikannya pada batik dengan pewarna alam.

Pada kesempatan ini Margrethe yang mengenakan rok motif garis-garis warna pink dan hitam  menanyakan proses pembantikan  dan berapa lama pembuatannya.  ‘’Kami menjelaskan sejarah batik sejak dari Keraton sampai di luar Keraton dan pengembangan batik mulai dari zaman Belanda, Jepang dan pengaruh Cina, India, dan sebagai,  kata Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik  Zulmalizar pada wartawan usai Kunjungan Ratu Denmark.

Batik Cirebon – Selama kunjungan Ratu Denmark mendapat penjagaan sangat ketat . Wartawan hanya boleh mengambil foto dari jarak sekitar dua meter dan tidak boleh mendekat. Selama kunjungannya di Balai Besar Kerajinan dan Batik, Margrethe II selain mendapat penjelasan tentang proses pembatikan, sejarah batik, juga mendengar penjelasan dari perajin batik.

Juragan Batik – Ratu Denmark tampak banyak tersenyum selama meninjau pameran batik  yang berada di dalam  ruang lobby  Balai Besar Kerajinan dan Batik maupun yang di halaman Balai Besar Kerajinan dan Batik.  Bahkan saat meninjau stand Batik Sungsang yang berada di halaman Balai Batik, Margrethe Alexandrine Thorhildur Ingrid  sempat mencoba memakai rok batik.

‘’Ratu Denmark sangat menyukai batik pewarna alam yang ramah lingkungan dan berwarna biru. Dia sukanya motif pengembangan, sesuai dengan motif yang ada di Denmark dan dia menyukai batik yang dibuat oleh Paguyuban Batik Sekar Jagad,’’tutur Zulmalizar. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Rempah Menjadi Pewarna Alami Batik

Batik Cirebon – Indonesia memiliki jenis rempah yang luar biasa beragam. Selain untuk bumbu masak, kosmetik, dan obat, rempah juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami batik.

Terobosan ini dilakukan seniman Lalita Rachmania pada karyanya yang akan dipamerkan di Pameran Senirupa SSIA, mulai 28 Oktober – 7 November 2015.

Batik Cirebon – Dalam pameran yang melibatkan seniman Indonesia-Jepang ini, Lalita akan menampilkan karya lukis di atas kulit kayu dan batik warna alam. Dia menggunakan parutan kayu secang bersama dengan jenis rempah lain sebagai penghasil warna merah menyala. Dia juga menggunakan pewarna alami batik dari tingi dan tegaran.

Menurutnya, penggunaan warna alam ini yang akan membedakan dengan batik lainnya.

Juragan Batik – “Tekniknya tetap sama yakni menggunakan dilukis menggunakan canting, kemudian di rebus. Hanya proses pewarnaannya yang berbeda, yakni menggunakan warna alam,” katanya.

Selain batik warna alam, dia juga akan memamerkan karya lukis di atas kulit kayu dengan menggunakan cat air dan akrilik. Dia mengangkat tema yang mengawinkan Jepang dan Indonesia.

“Saya mengawinkan teknik batik dari Indonesia dengan motif musim gugur Jepang,” katanya. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Cegah Pencemaran, Kampung Batik Laweyan Solo Kembangkan Pewarna Alam

Batik Cirebon – Guna mengurangi pencemaran lingkungan terutama sungai, sentra batik Kampung Laweyan, Solo, akan mengembangkan green eco batik dalam produksinya. Industri batik rumahan yang selama ini menggunakan pewarna bahan kimia akan diganti dengan pewarna alam yang lebih ramah lingkungan.

Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan, Alpha Fabela Priyamono mengatakan, selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan program tersebut sekaligus untuk mendukung Kota Solo menjadi Eco Cultural City atau kota budaya yang ramah lingkungan.

Batik Cirebon – “Memang penggunaan pewarna alam tidak seawet pewarna dari bahan kimia, biasanya cepat luntur dan kurang dimintai konsumen. Padahal, harga batik dengan pewarna alam lebih mahal dari batik yang menggunakan pewarnaan kimia,” ujar Alpha, Kamis (22/10).

Program green eco batik tersebut, kata dia, dilaksanakan melalui kerjasama dengan perguruan tinggi di Solo. Terutama untuk meneliti pewarna alam batik yang awet dan tidak mudah luntur. “Jadi kami ingin batik tetap laku, tanpa mengabaikan kondisi lingkungan. Kami akan bekerjasama dengan kampus,” terang Alpha.

Juragan Batik – Lebih lanjut dia menjelaskan, green eco batik dirancang dalam tiga tahapan. Yakni untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya lingkungan. Tahapan pertama melalui gerakan penghijauan dengan budidaya hutan tanaman pewarna alam.

Tahapan ke dua, dilakukan penataan kawasan ramah lingkungan dengan cara mengolah limbah sedemikian rupa sehingga aman dibuang ke sungai. “Pada tahapan terakhir adalah menata manajemen yang ramah lingkungan,” jelas Alpha.

Salah seorang pengusaha batik di Kampung Batik Laweyan, Gunawan Nizar, mengungkapkan dalam beberapa tahun terakhir sudah ada sejumlah rumah industri di wilayahnya yang menggunakan pewarna alam dalam proses pewarnaan.

“Memang sebagian besar konsumen masih memilih batik dengan pewarna bahan kimia. Tapi batik dengan pewarna alam sudah memiliki pangsa tersendiri. Sekitar 80 persen untuk batik dengan pewarna kimia, sisanya adalah batik pewarna alam,” kata Gunawan. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Batik Panorama Geblek Kulon Progo Yogyakarta

Batik Cirebon – Perajin batik Kulon Progo, Yogyakarta gelar pertunjukan busana Panorama Geblek Kulon Progo. Berbagai kreasi batik dan busana koleksi Sinar Abadi Batik terpamerkan.

Perajin sekaligus pemilik Sinar Abadi Batik Puryanto di Kulon Progo, Selasa (20/10/2015) mengatakan kegiatan fashion show itu wujud melestarikan budaya Yoyakarta sebagai Kota Batik dan bagaimana agar batik dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Batik Cirebon – Pagelaran fashion show dibagi dalam empat sesi yakni parade model SKPD Kulon Progo, eksotika Batik Golong Gringsing, Batik In Fusion dan Panorama Batik Geblek Renteng Draping Art.

“Kegiatan ini juga untuk menyemarakkan Porda dan mengajak seluruh komponen masyarakat untuk memakai dan mencintai batik asli Kulon Progo, dan berkaitan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia,” jelas Puryanto.

Ia mengatakan Batik In Fusion menampilkan perpaduan antara busana modern, korean style yang kekinian, berpadu dengan batik karena batik juga merupakan ikon fashion luwes dan bisa berpadu dengan busana kekinian.

Sementara itu, Draping Art merupakan karya busana tanpa jahitan, menampilkan karya Arjuna Ardana yang merupakan putra daerah Kulon Progo.

Menurut dia, Geblek Renteng ikon fashion Kulon Progo, mengandung filosofi yang dalam dan mencerminkan kepribadian masyarakat Kulon Progo. Asal motif dari Geblek, makanan khas Kulon Progo, yang sederhana dan membumi, menjadi satu kesatuan keseharian masyarakat Kulon Progo.

Juragan Batik – Dengan sentuhan tangan putra putri bumi menoreh, geblek renteng semakin mempesona dengan keindahan warna warni dan beragam coraknya. Pertunjukan itu terdukung koreografer Deah Indah Pratiwi dan BismArt production, MM Production, TeKaPe dan Ardana Production.

“Filosofi geblek renteng yang sederhana, from nothing to something, geblek renteng yang yang biasa dipakai dalam keseharian, kali ini coba diubah menjadi sebuah karya fashion yang diharapkan nantinya siap bersaing di kancah internasional, mengangkat citra Kulon Progo di mata dunia,” papar dia.

Ia mengatakan Eksotika Golong Gringsing koleksi busana batik dari Sinar Abadi Batik, bertajuk Eksotika Golong Gringsing, koleksi Wear Able atau busana siap pakai yang memiliki corak khas dan modern. “Corak batik yang warna-warni menawan dan garis potongan yang unik,” kata dia. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon – Prihatin kabut asap, seniman Pekalongan bikin batik bermotif asap

Batik Cirebon – Harris Riadi, salah satu seniman batik di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, membuat batik dengan tema asap. Hal tersebut, dilakukan wujud keprihatinnya dengan bencana asap yang terjadi di pulau Sumatera dan Kalimantan.

“Motif batik asap ini, sebagai bentuk keprihatinan kami dengan bencana asap yang terjadi,” ucapnya saat ditemui di galerinya Jalan Patriot, Kota Pekalongan, Jawa Tengah Senin (19/10).

Batik Cirebon – Menurut Harris, bencana asap bukan lagi persoalan kehidupan masyarakat kota besar (pemerintah pusat) saja. Bencana ini juga sudah menjadi bagian permasalahan kita semua orang di Indonesia.

Untuk itu galerinya Green batik mencoba menciptakan batik tema asap. Tidak sekedar tema, cara pembuatannya juga khusus.

“Agar semakin berkesan, saya membuatnya dengan pewarna dari daun sampah kering. Atau pewarna alami,” ujarnya.

Ditambahkan, karya batiknya juga sudah diserahkan kepada pemerintah, melalui Badan Ekonomi Kreatif Indonesia.

Juragan Batik – “Saya sudah serahkan, salah satu batik motif asap dengan pewarna alami ke Badan Ekonomi Kreatif. Melalui sekretarisnya, Harry Waluyo,” ucapnya.

Ide pembuatan batik asap tersebut, juga didasari ingin menambah khasanah motif batik baru di Pekalongan, dengan mengambil momentum, bencana asap. Untuk terus mengingatkan masyarakat, jika ada bencana besar di negeri ini.

“Nantinya, saya juga ingin menyumbangkannya ke museum untuk mengenang memori ini,” tandasnya. ( Batik Cirebon )