Batik Cirebon – Manfaatkan Lampu Batik untuk Memperindah Interior Rumah

Batik Cirebon – Lampu pada dasarnya hadir untuk menerangi setiap sudut ruang dalam rumah. Namun, tidak sedikit yang memanfaatkan lampu sebagai pendukung desain interior untuk menciptakan kenyamanan di rumah. Salah satunya, Anda dapat memanfaatkan lampu kap sebagai pendukung interior rumah.

Batik Cirebon – Lampu kap dengan konsep etnik, salah satunya dapat ditemui pada Lampu Batik Solo. Nuansa etnik berasal dari motif batik sebagai ornamen ukiran pada kap lampu. Kap lampu terbuat dari bahan kayu jati selaras dengan konsep natural yang ingin diusung. Konsep natural ini makin terlihat jelas dengan serat kayu yang masih dipertahankan. Finishing dan pewarnaan menggunakan water based makin mempertahankan warna asli dari kayu jati tersebut.

Juragan Batik – Pencipta Lampu Batik Solo Fajar Adhinata menuturkan lampu kap dari kayu jati menjadi alternatif dekorasi interior, di tengah produksi lampu kap dari bahan baku tembaga, kuningan, glass, dan akrilik. Pemilihan kayu jati sebagai bahan baku dinilai dapat lebih kuat dan tahan lama. Dari segi bahan dan tampilan, kayu jati juga memiliki tekstur yang bagus dan gampang diolah, tuturnya belum lama ini.

Lampu kap dengan motif batik ini dapat menghias tampilan interior ruangan karena motifnya yang unik. Dia menyarankan pemilihan motif ornamen lampu kap sebaiknya disesuaikan dengan konsep ruangan. ( Batik Cirebon )

Raja Swedia Kunjungi Sentra Batik di Bantul

Yogyakarta

Batik Indonesia menarik perhatian Raja Swedia, Carl XVI Gustaf. Karena itu, pria yang juga Ketua Yayasan Pandu Dunia (Chairmant of the World Scout Foundation) ini menyempatkan diri mengunjungi pusat kerajinan batik tulis di Yogyakarta.

Pusat kerajinan batik tulis ini berada di Dusun Nogosari, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Gustav datang bersama rombongan duta besar Swedia untuk Indonesia dan didampingi Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka, Prof Dr Aswar Azrul, Ketua Kwarda DIY Sri Paduka Paku Alam IX dan Bupati Bantul, Ny Suryawidati Idham Samawi.

Rombongan

Rombongan tiba pada Rabu (1/2/2012) sekitar pukul 10.00 WIB dan langsung disambut warga dan anggota Pramuka yang sudah sejak pagi menunggu kedatangannya. Di sepanjang jalan yang dilalui, mulai dari simpang empat Ringroad Selatan Jl Imogiri Timur, ribuan anggota Pramuka Siaga dan Penggalang juga menyambut dengan membawa bendara Merah Putih kecil.

Di Dusun Nogosari, Gustav meresmikan Sanggar Pramuka bantuan Kerajaan Swedia yang berbentuk rumah Joglo untuk berbagai kegiatan kepanduan. Bersama National Scout Organization, dia menyatakan akan terus menyuarakan pesan perdamaian melalui Messengers of Peace ke seluruh dunia.

“Tujuannya untuk saling membantu satu sama lain antar negara,” katanya.

Gustav menambahkan sudah ada jutaan orang yang ikut proyek ini dengan melihat di website milik pandu dunia. Bulan depan pihaknya akan membuat website berbahasa Indonesia.

Caranya

“Caranya mudah. Silakan log in dan ceritakan apa yang Anda lakukan. Sudah ada jutaan pandu uang menunggu apa yang Anda lakukan di sini,” kata Gustav yang disambut tepuk tangan anggota pramuka.

Usai meresmikan sanggar Pramuka tersebut, di dekat Joglo Sanggar Pramuka itu Gustav bersama rombongan menyaksikan cara pembuatan kerajinan Batik tulis, tatah sungging untuk wayang kulit dan pembuatan keris. Untuk diketahui, Desa Wukirsari terkenal sebagai sentra kerajinan Batik tulis berkualitas serta kerajinan wayang kulit.

Seusai mengunjungi Dusun Nogosari, rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah dan Candi Prambanan di Sleman sebelum beristirahat di Hotel Sheraton. Pada malam harinya, Raja Swedia akan menghadiri jamuan makan malam bersama Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Koleksi batik Hartini Soekarno dipamerkan di Hamburg

London (ANTARA News) –  Kolekasi batik milik Hartini, istri Presiden Pertama RI Soekarno  dipamerkan di Museum für Völkerkunde, Hamburg. Koleksi Hartini bersanding dengan koleksi karya maestro batik Indonesia, Iwan Tirta, di acara yang berlangsung hingga 10 Juni itu.

“Pameran bertema Keindahan batik atau ‘Die Schönheit der batik‘ itu diadakan KJRI Hamburg bekerja sama dengan Museum Etnologi (Museum für Völkerkunde) Hamburg dan anggota Perhimpunan Pencinta Kain Adat Indonesia (Wastaprema),” demikian keterangan KJRI Hamburg yang diterima ANTARA London, Sabtu.

Museum

Lebih dari 200 tamu undangan memadati Ruang Auditorium Museum für Völkerkunde – Hamburg, di antaranya pejabat pemerintah Hamburg, Consular Corps, Friends of Indonesia (DIG), pengusaha, akademisi dan media massa.

Konsul Jenderal RI Hamburg, M. Estella Anwar Bey, mengatakan pameran batik ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan yang diadakan KJRI Hamburg dalam rangka merayakan hubungan diplomatik RI – RFJ yang pada tahun ini genap berusia 60 tahun.

KJRI ingin memperkenalkan salah satu warisan budaya Indonesia produk tekstil tradisional Indonesia yang memiliki nilai sangat tinggi berupa batik.

“Dalam setiap motif dan warnanya memiliki makna dan filosofi yang berbeda,” ujar Konjen RI.

Senada dengan itu, Direktur Kerja Sama Internasional – Senat Hamburg, Uwe Ram, mengatakan hubungan bilateral Jerman – Indonesia selama ini berlangsung dengan baik.

“Indonesia sendiri telah mengalami banyak perubahan dibanding ketika saya berkunjung pada 15 tahun silam,” katanya.

Direktur Museum für Völkerkunde – Hamburg,  Prof. Dr. Wulf Köpke menyebutkan kerja sama antara Museum für Völkerkunde dan KJRI Hamburg berlangsung sejak lama.

Brigitte

Presentasi mengenai batik disampaikan Brigitte Willach, seniman lukis dari Hannover yang sejak tahun 1985 mendalami seni batik Indonesia dan aktif menjadi pembicara dalam berbagai acara mengenai batik diseluruh dunia, termasuk World batik Summit 2011 di Jakarta.

Willach menjelaskan sejarah batik, pusat pembuatan batik di Indonesia, jenis dan makna corak batik, serta proses pembuatan batik dengan teknik wax-resist-dyeing dan teknik pembuatan corak batik menggunakan canting dan aplikasi “malam” (wax) sebagai bahan perintang warna.

Di akhir presentasi diperagakan cara pemakaian kain tradisional batik serta peragaan busana oleh 18 model anak-anak dan remaja mengenakan beragam jenis kain batik mendapatkan sambutan dari undangan membuat suasana malam makin semarak.

Setelah menyaksikan peragaan busana, para tamu undangan dipersilakan meninjau ruang pameran batik di Paviliun Indonesia sambil menikmati jajanan pasar tradisional Indonesia.

Pakar

Dalam penyelenggaraan pameran batik itu, tampak hadir tiga pakar batik Indonesia asal Jerman, yaitu R. Smend di Köln, Annegret Haake  dari Frankfurt dan Brigitte Willach di Hannover serta seorang pakar batik Indonesia dari Australia, Dr. Maria Wronska Friend.

Pameran yang berlangsung hingga 10 Juni itu juga menampilkan koleksi kain batik dari berbagai daerah di Pulau Jawa seperti Cirebon, Banyumas, Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Garut, Lasem dan Palembang.
(H-ZG)

_ryan

Pelestarian Naskah Kuno Nusantara Lewat Motif Batik

naskah kuno,nusantara,batik,konservasi,digitalisasiNaskah kuno Pura Pakualaman/Olivia Lewi

Naskah kuno tidak hanya merupakan bukti peninggalan sejarah. Juga mengandung banyak ilmu pengetahuan,  di antaranya filsafat, kesenian, arsitektur, serta kepemimpinan.

naskah

Di Indonesia, konservasi terhadap naskah kuno nusantara ini belum banyak mendapat perhatian. Berbeda dengan beberapa negara lain  yang sudah melakukan upaya penyimpanan dan perawatan dengan suhu dan tempat tertentu.

Kendati demikian, ada beberapa tempat di Indonesia yang sudah melakukan upaya konservasi naskah kuno nusantara ini. Salah satu contohnya adalah Kadiparen Pura Pakualaman Yogyakarta. Mereka menuangkan teks naskah kuno dalam motif-motif batik. Menurut Pengurus Perpustakaan Pura Pakualaman Sri Ratna Sakti Mulya, penuangan teks naskah kuno dalam motif batik ini adalah upaya untuk melestarikan cagar budaya tersebut.

“Teks naskah kuno yang dituangkan dalam motif batik ini akan lebih mudah dipahami dan diingat oleh generasi penerus. Tak hanya sekedar motif batik saja, teks yang dituangkan ini juga dirancang sesuai dengan cerita asli serta filosofi yang akan diberikan,” paparnya di Yogyakarta, beberapa hari lalu.

Namun, belum semua teks naskah kuno dituangkan dalam motif batik. Karena pihaknya perlu melakukan kajian terlebih dahulu sebelum menuangkannya dalam kain. Kajian sendiri perlu menggandeng beberapa ahli yang paham tentang naskah tersebut.

batik

Selain dituangkan dalam motif batik, Pura Pakualaman menuangkan naskah kuno ini dalam bentuk buku. Karya-karya masterpiece-nya yang berisi ajaran-ajaran leluhur dibedah dengan bahasa yang mudah dipahami oleh khalayak umum. Seperti buku bertajuk Ajaran Kepemimpinan Asthabrata Kadipaten Pakualaman” yang bersumber dari naskah Pakualaman Sestrodisuhul yang berisikan kisah nabi, raja-raja jawa, wali dan pandawa lima.

Sementara itu, konservasi naskah kuno nusantara juga dilakukan oleh Keraton Yogyakarta dengan melakukan digitalisasi pada 300 naskah (manuskrip) kuno. Menurut Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Osman Faturrahman, digitalisasi naskah kuno merupakan kegiatan yang perlu dilakukan terus menerus agar naskah kuno tetap terjaga dan dilestarikan.

cuaca

“Pengaruh cuaca biasanya menjadikan naskah mudah menjamur sehingga manuskrip asli rentan rusak. Belum lagi ada bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia,” paparnya.

Ia menambahkan, Manassa juga merestorasi kurang lebih 5.000 manuskrip yang telah diubah dalam bentuk digital. Termasuk sebuah manuskrip Melayu berhuruf Palawa dari abad 14.

“Manuskrip yang mengalami proses penggandaan ke digital sangat bervariasi termasuk karya pujangga Ronggowarsito serta naskah-naskah babad. Setelah proses digitalisasi dilakukan maka rencananya akan disimpan dalam Museum Nasional.

Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Djoko Santoso memberikan apresiasi yang tinggi atas kepedulian Kadipaten Pura Pakualaman terhadap naskah kuno nusantara. Ia berharap naskah dalam koleksi perpustakaannya terus dirawat dan dimanfaatkan secara optimal lewat penelitian akademis. Kemudian disosialisasikan kepada khalayak umum, salah satunya lewat buku.
(Olivia Lewi Pramesti)

_ryan